KUBU RAYA, SP - Langit Kalimantan Barat (Kalbar) menjadi arena kolaborasi dua negara sahabat dalam upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Helikopter NAS-332 Super Puma milik TNI Angkatan Udara (TNI AU) bersama CH-47 Chinook dari Japan Air Self-Defense Force (JASDF) bahu-membahu menjalankan misi water bombing untuk memadamkan titik-titik api di wilayah rawan karhutla.
Operasi bersama tersebut memperlihatkan sinergi dan koordinasi antara TNI AU dan JASDF dalam menghadapi ancaman kebakaran, khususnya di kawasan yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Super Puma TNI AU dan CH-47 Chinook JASDF dikerahkan untuk melakukan penyiraman dari udara dengan membawa muatan air dalam jumlah besar. Dari ketinggian, kedua helikopter secara bergantian menyiram kawasan yang terbakar guna menekan kobaran api dan mencegah perambatan ke area lain.
Komandan Lanud Supadio, Marsma TNI Sidik Setiyono, mengatakan operasi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari upaya penanganan karhutla, tetapi juga menjadi bentuk kerja sama konkret di bidang kemanusiaan antara Indonesia dan Jepang.
“Kolaborasi ini tidak hanya menguji kesiapan armada dan kru kami dalam menghadapi situasi darurat karhutla, tetapi juga mempererat interoperabilitas antara TNI AU dan JASDF. Koordinasi komunikasi berjalan dengan baik, menghasilkan akurasi pengeboman air yang tinggi di zona merah,” ujarnya.
Operasi water bombing dari udara menjadi salah satu upaya penting dalam menangani kebakaran di kawasan hutan dan lahan gambut yang memiliki medan sulit serta tidak mudah dijangkau oleh tim pemadam melalui jalur darat.
Kehadiran dua armada udara tersebut diharapkan dapat membantu mempercepat proses pemadaman sekaligus mengendalikan potensi meluasnya kebakaran ke wilayah sekitarnya.
Kolaborasi TNI AU dan JASDF di langit Kalimantan Barat juga menunjukkan bahwa penanggulangan bencana dan perlindungan lingkungan dapat menjadi ruang kerja sama lintas negara.
Melalui operasi bersama ini, Indonesia dan Jepang menunjukkan komitmen untuk memperkuat kemampuan respons terhadap bencana sekaligus melindungi masyarakat dan lingkungan dari dampak karhutla. (*)